Sejarah dan Kedudukan Bahasa Indonesia
Pengertian Bahasa
Secara umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat kornunikasi yang berupa
sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap
manusisa.
Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing
mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep
yang diwakili Kumpulan kata atau kosa kata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut
urutan abjad, disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau
leksikon.
Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun
begitu saja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan, pikiran atau
perasaan, kita harus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan
bahasa. Seperangkat aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai
pedoman berbahasa inilah yang disebut Tata bahasa.
Pada bab berikutnya, sebubungan dengan tata bahasa akan kita bicarakan secara terinci fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik dan etimologi. Fonologi ialah bagian tata bahasa yang membahas
atau mempelajari bunyi bahasa. Morfologi mempelajari proses pembentukan kata secara gramatikal
beserta unsur-unsur dan bentuk – bentuk kata. Sintaksis membicarakan komponen – komponen
kalimat dan proses pembentukannya. Bidang ilmu bahasa yang secara khusus menganalisis arti atau
makna kata ialah semantik, sedang yang membahas asal-usul bentuk kata adalah etimologi,
Pengertian Bahasa
Fungsi utama bahasa, seperti disebutkan di atas, adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana untuk
menyampaikan informasi (=fungsi informatif l)
Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan informasi, atau
mengutarakan pikiran, perasaan, atau gagasan, karena bahasa juga berfungsi :
a. untuk tujuan praktis: mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari.
b. untuk tujuan artistik: manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya
guna pemuasan rasa estetis manusia.
c. sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar pengetahuan kebahasaan.
d. untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, selama
kebudayaan dan adat-istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan filologis).
Dikatakan oleh para ahli budaya, bahwa bahasalah yang memungkinkan kita membentuk diri sebagai
makhluk bernalar, berbudaya, dlan berperadaban. Dengan bahasa, kita membina hubungan dan kerja
sama, mengadakan transasi, dan melaksanakan kegiatan sosial dengan bidang dan peran kita rnasingmasing.
Dengan bahasa kita mewarisi kekayaan masa larnpau, rnenghadapi hari ini, dan merencanakan
masa depan.
jika dikatakan bahwa setiap orang membutuhkan informasi itu benar. Kita ambil contoh, misalnya,
mahasiswa. la membutuhkan informasi yang berkaitan dengan bidang studinya agar lulus dalarn setiap
ujian dan sukses meraih gelar atau tujuan yang diinginkan. Seorang dokter juga sama. la memerlukan
informasi tentang kondisi fisik dan psikis pasiennya agar dapat menyembuhkannya dengan segera.
Contoh lain, seorang manager yang mengoperasikan, mengontrol atau mengawasi perusahaan tanpa
informasi is tidak mungkin dapat mengambil keputusan amu menemuukan kebijaksanaan Karena setiap
orang membutuhkan informasi, komunikasi sebagai proses tukar-menukar informasi, dengan sendirinya
juga mutlak menjadi kebutuhan setiap orang.
Perkembangan Bahasa Indonesia
Kata Indonesia berasal dari gabungan kata Yunani Indus ‘India’ dan nesos ‘pulau alau kepulauan’. Jadi
secara etimologis berarti kepulauan yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan India, atau hanya
kepulauan India. Pencipta kata tersebut ialah George Samuel Windsor Earl, sarjana Inggris yang
menulis dan memakai kata itu dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, Vol. iv- him
17, bulan Februari 1850. Ia menggunakan kata Indonesians dalam majalah itu Sedangkan, orang yang
mempopulerkan kola lndnnesin adalah ahli etnologi Jerman, Adolf Bastian, yang memakainya dalam
buku-buku yang ditulisnya sejak tahun 1884. Buku-buku ini diberi judul Indwonesien order die Inseln
des Malayischen Archipel.
Bahasa Indonesia yang sekarang itu ialah bahasa Melayu Kuno, yang dahulu digunakan orang Melayu di
Riau, Johor. dan Lingga, yang telah mengalami perkembanggan berabad-abad lamanya Dalam
keputusan Seksi A No. 8. hasil Kongres Bahasa Indonesia 11 di Medan, 1954, dikatakan bahwa dasar
bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhan dalam masyarakat den
kebadayaan Indonesia sekarang.
Sehubungan dengan perkembangan bahasa Indonesia, ada beberapa masa dan tahun bersejarah yang
penting, yakni :
1. Masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. Pada waktu itu Bahasa Indonesia yang masih
bernama bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca atau bahasa penghubung, bahasa
pengantar. Bukti, hostoris dari masa ini antara lain prasasti atau batu bertulis yang ditemikan di
Kedukan Bukit, Kota Kapur, Talang Tuwo. Karang Brahi yang berkerangka tahun 680 Masehi.
Selain ini dapat disebutkan bahwa data bahasa Melayu paling tua justru dalam prasasti yang
ditemukan di Sojomerta dekat Pekalongan, Jawa Tengah.
2. Masa Kerajan Malaka, sekitar abad ke-15. Pada masa ini peran bahasa Melavu sebagai alat
komunikasi semakin penting. Sejarah Melayu karya Tun Muhammad Sri Lanang adalah
peninggalan karya sastra tertue yang ditulis pada masa ini. Sekitar tahun 1521, Antonio
Pigafetta menyusun daftar kata Italy-Melayu yang pertama. Daflar itu dibuat di Tidore dan berisi
kata-kata yang dijurnpai di sana.
3. Masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, sekitar abad ke-19. Fungsi bahasa Melayu sebagai sarana
pengungkap nilai-nilai estetik kian jelas. Ini dapat dilihat dari karya-karya Abdullah seperti
Hikayat Abdullah, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah, Syair tentang Singapura Dimakan
Api, dan Pancatanderan Tokoh lain yang Perlu dicatat di sini ialah Raja Ali Haji yang terkenal
sebagai pengarang Gurindam Dua Belas, Silsilah Melayu Bugis, dan Bustanul Katibin.
4. Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan yang pertama kali oleh Prof. Ch. van Ophuysen
dibantu Engku Nawawi dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan mereka yang dikenal
dengan Ejaan Van Ophuysen ditulis dalam buku yang berjudul Kitab Logat Melajoe.
5. Tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan Commissie de lndlandsche School en Volkslectuur
( Komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat) Lembaga ini mempunyai andil besar dalam
menyebarkan Serta mengembangkan bahasa Melayu melalui bahan-bahan bacaan yang
diterbitkan untuk umum.
6. Tahun 1928 tepatnya tanggal 28 Oktober, dalarn Sumpah Pemuda, bahasa Melayu diwisuda
menjadi bahasa Nasional bangsa Indonesia sekaligus namanya diganti menjadi bahasa
Indonesia. Alasan dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional ini didasarkan pada
kenyataan bahwa bahasa tersebut (1) telah dimengerti dan dipergunakan selama berabad-abad
sebagai Lingua franca hampir di seluruh daerah kawasan Nusantara, (2) strukturnya sederhana
sehingga mudah dipelajari dan mudah menerima pengaruh luar untuk memperkaya serta
menyempurnakan fungsinya. (3) bersifat demokratis sehingga menghindarkan kemungkinan
timbulnya perasaan sentimen dan perpecahan, dan (4) adanya semangat kebangsaan yang lebih
besar dari penutur bahasa Jawa dan Sunda.
“Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa jang sama, bahasa Indonesia”
demikian rumusan Sumpah Pemuda yang terakhir dan yang benar.
7. Tahun 1933 terbit majalah Poedjangga Baroe yang pertama kali. Pelopor pendiri majalah ini
ialah Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, yang ketiganya ingin dan
berusaha memajukan bahasa Indonesia dalam segala bidang.
8. Tahun 1938, dalam rangka peringatan 10 tahun Sumpah Pemuda diadakan Kongres Bahasa
Indonesia I di Solo, yang dihadiri ahli-ahli bahasa dan para budayawan seperti Ki Hadjar
Dewantara, Prof Dr Purbatjaraka dan Prof Dr. Husain Djajadiningrat. Dalam kongres ditetapkan
keputusan untuk menditikan Institut Bahasa
Indonesia, mengganti ejaan van Ophuysen, serta menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa
pengantar dalam Badan Perwakilan.
9. Masa pendudukan Jepang (1942-1945) Pada masa ini peran bahasa Indonesia semakin penting
karena pemerintah Jepang melarang penggunnan bahasa Belanda yang dianggapnya sebagai
bahasa musuh Penguasa Jepang terpaksa mengangkat bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi
dalam administrasi pemerintahan dan bahasa pengantar di lembaga pendidikan, karena bahasa
Jepang sendin belum banyak dimengerti oleh bangsa Indonesia. Untuk mengatasi berbagai
kesulitan, akhirnya Kantor Pengajaran Balatentara Jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia.
10.Tahun 1945, tepamya 18 Agustus bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa negara, sesuai
dengan bunyi UUD 45, Bab XV, Pasal 36: Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.
11.Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan pemakaian Ejaan Repoeblik sebagai penyempummn ejaan
sebelumnya Ejaan ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ejaan Soewandi.
12.Balai Bahasa yang dibentuk Wont 1948, yang kemudian namanya diubah menjadi Lembaga
Bahasa Nasional (LBN) tahun 1968, dan dirubah lagi menjadi Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa Pada tahun 1972 adalah lembaga yang didirikan dalam rangka usaha
pemantapan perencanaan bahasa.
13.Atas prakarsa Mentri PP dam K, Mr. Moh. Yamin, Kongres Bahasa Indonesia Kedua diadakan di
Medan tanggal 28 Oktober s.d. 1 November 1954. Dalam kongres ini disepakati suatu rumusan
bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia berbeda dari
bahasa Melayu karena bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang sudah disesuaikan
pertumbuhannya dengan masyraakat Indonesia sekarang .
14.Tahun 1959 ditetapkan rumusan Ejaan Malindo, sebagai hasil usaha menyamakan ejaan bahasa
Indonesia dengan bahasa Melayu yang digunakan Persekutuan Tanah Melayu. Akan tetapi,
karena pertentangan politik antara Indonesia dan Malaysia, ejaan tersebut menjadi tidak pernah
diresmikan pemakaiannya.
15.Tahun 1972, pada tanggal 17 Agustus, diresmikan pemakaian Ejaan Yang Disempurnakan yang
disingkat EYD. Ejaan yang pada dasarnya adalah hasil penyempurnaan dari Ejaan Bahasa
Indonesia yang dirancang oleh panitia yang diketuai oleh A. M. Moeliono juga digunakan di
Malaysia dan berlaku hingga sekarang.
16.Tahun 1978, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-50. bulan November di
Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III. Kongres ini berhasil mengambil
keputusan tentang pokok-pokok pikiran mengenai masalah pembinaan dan pengembangan
bahasa Indonesia. Di antaranya ialah penetapan bulan September sebagai bulan bahasa.
17.Tanggal 21 – 26 November 1983, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, berlangsang Kongres
Bahasa Indonesia IV. Kongres yang dibuka olch Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr.
Nugroho Notosusanto, berhasil merumuskan usaha-usaha atau tindak lanjut untuk
memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan negara.
18.Dengan tujuan yang sama, di Jakarta 1988, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V.
19.Tahun 1993, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Kongres Bahasa
Indonesia berikutnya akan diselenggarakan setiap lima tahun sekali.
Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
Sebagairmana kita ketahui dari uraian di atas, bahwa sesuai dengan ikrar Sumpah Pemuda tanggal 28
Oklober 1928 bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa nasional, dan sesuai dengan bunyi UUD 45,
Bab XV, Pasal 36 Indonesia juga dinyatakan sebagai bahasa negara. Hal ini berarti bahwa bahasa
Indonesia mempunyai kedudukan baik sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
Yang dimaksud dengan kedudukan bahasa ialah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai
budaya, yang dirumuskan atas dasar nilai sosialnya Sedang fungsi bahasa adalah nilai pemakaian
bahasa tersebut di dalam kedudukan yang diberikan.
Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional
Sehubungan dengan kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki empat fungsi.
Keempat fungsi tersebut ialah sebagai :
1. lambang identitas nasional,
2. lambang kebanggan nasionnai,
3. alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belakang sosial budaya dan bahasa
yang berbeda-beda, dan
4. alat perhubtmgan antarbudaya clan daerah.
Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara
Berkaitan dengan statusnya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai :
1. bahasa resmi negara,
2. bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan,
3. bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nanional untuk kepentingan perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan
4. bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta
teknologi.
Bahasa Indonesia Baku
Bahasa Indonesia yang baku ialah bahasa Indonesia yang digunakan orang orang terdidik dan yang
dipakai sebagai tolak bandingan penggunaan bahasa yang dianggap benar. Ragam bahasa Indonesia
yang baku ini biasanya ditandai oleh adanya sifat kemantapan dinamis dan ciri kecendekiaan. Yang
dimaksud dengan kemantapan dinamis ini ialah bahwa bahasa tersebut selalu mengikuti kaidah atau
aturan yang tetap dan mantap namun terbuka untuk menerima perubahan yang bersistem. Ciri
kecendekiaan bahasa baku dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengungkapkan proses pemikiran
yang rumit di berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan.
Bahasa Indonesia baku dipakai dalam :
1. komunikasi resmi, seperti dalam surat-menyurat resmi, peraturan pengumuman instansi resmi
atau undang-undang;
2. Tulisan ilmiah, seperti laporan penelitian, makalah, skripsi, disertasi dan buku-buku ilmu
pengetahuan.
3. pembicaraan di muka umum, seperti dalam khotbah, ceramah, kuliah pidato, dan
4. pembicaraan dengan orang yang dihormati atau yang belum dikenal.